Showing posts with label Binatang Peliharaan. Show all posts
Showing posts with label Binatang Peliharaan. Show all posts
Monday, March 27, 2023
Tuesday, April 5, 2022
Jual Cupang Serit /Crowntail Lokasi Padang Sumatera Barat.. Harga Murah..!!
Cupang CT om.. !!
"..Yang Satuan & Partaian.."
- Ukuranny mulai dari S++
- Harga satuan mulai dari 7k saja.
- Kalo partaiannya minimal 10 ekor, hrg 5k aja
- Partaian bisa sampe 4k kalo ambil banyak(minimal 50 ekor).
- Bisa X3/ekor, ambil semua aja, sekitar 100 ekor.
Lokasi Daerah Jati - Padang - Sumatera Barat
WA : O852 9476 OO5O
#ikancupang #cupang #ikancupangpadang
#crowntail #jualcupang #jualikancupang
#jualikanpadang #ikanhiaspadang
#jualcupangpadang #ikanserit #serit
#cupangseritpadang #cupangjati
#cupangpadang #padang #jatiadabiah
Sunday, March 19, 2017
Cara Menghasilkan Ayam Aduan Terbaik : Rekayasa Genetik
Artikel ini sebenarnya ditulis oleh Steven van Breemen yang dituangkan
dalam bukunya berjudul ‘Mini Course The Art of Breeding’. Artikel
tersebut sesuai dengan pengalamannya dalam beternak merpati pos di Eropa
sana. Meskipun hewan yang ia ternakan adalah merpati, tidak menutup
kemungkinan bisa diterapkan pada Ayam. Mengingat kedua spesies ini
selainsama-sama jenis unggas juga mempunyai banyak kesamaan dalam
beberapa hal.
Banyak peternak ayam adauan bertanya : Kenapa hasil ternak saya tidak seragam, dan kualitas mutunya lambat laun terasa semakin menurun?
Taukah anda bahwa kebanyakan peternak ayam aduan di Indonesia khususnya pemula terlalu fanatik dengan trah juara. Juara dikawinkan dengan juara, tapi kenapa anakannya tidak ada yang juara? Ini menimbulkan pertanyaan yang selalu muncul dan menghantui.
Salah satu penyebabnya mungkin karena indukan yang digunakan adalah geno-typenya tidak seragam alias acak-acakan. Maka dari itu diperlukan ternak dengan "rekayasa genetik" untuk menyeragamkan geno-type melalui proses ternak yang lebih terpadu, tersistematis atau terpola dengan baik dan benar. Bukan sekedar ayam juara saja.
Banyak peternak ayam adauan bertanya : Kenapa hasil ternak saya tidak seragam, dan kualitas mutunya lambat laun terasa semakin menurun?
Taukah anda bahwa kebanyakan peternak ayam aduan di Indonesia khususnya pemula terlalu fanatik dengan trah juara. Juara dikawinkan dengan juara, tapi kenapa anakannya tidak ada yang juara? Ini menimbulkan pertanyaan yang selalu muncul dan menghantui.
Salah satu penyebabnya mungkin karena indukan yang digunakan adalah geno-typenya tidak seragam alias acak-acakan. Maka dari itu diperlukan ternak dengan "rekayasa genetik" untuk menyeragamkan geno-type melalui proses ternak yang lebih terpadu, tersistematis atau terpola dengan baik dan benar. Bukan sekedar ayam juara saja.
Buat sobat penghobi ayam laga khususnya para peternak, ini ada sedikit
artikel mengenai teknik-teknik breeding (beternak) dengan cara yang
lebih sistematis sehingga bisa juga disebut sebagai ‘Rekayasa Genetika’
yang mumpuni karena sudah terbukti pada burung merpati.
Tapi mungkin saja diantara sobat-sobat ada yang lebih berpengalaman dan sudah menemukan cara ternak yang lebih baik. Tapi paling tidak artikel ini bisa menambah wawasan mengenai bagaimana cara beternak yang baik dengan teknik modern sesuai dengan teori genetika para ilmuan. Tidak ada salahnya terus meningkatkan wawasan.
Sebelum membahas lebih dalam tentang teori genetika, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu beberapa kata yang ada dalam artikel ini agar tidak terjadi salah penafsiran.
1. Inbreed : Perkawinan antara dua individu yg memiliki hubungan darah sangat dekat. Yaitu : Ibu dengan anak, bapak dengan anak dan anak vs anak.
2. Line breed : Perkawinan dua individu yg memiliki hubungan darah tidak terlalu jauh. Contoh : Kakek dengan cucu, paman dengan keponakan, dll.
3. Cross breed : Perkawinan antara 2 individu yang tidak memiliki hubungan darah. Atau minimal hubungan darahnya terlalu jauh.
4. Super breed : Individu yang selalu mampu menurunkan sifat-sifat terbaik pada keturunannya.
5. Super fight : Individu yang diproyeksikan khusus untuk lomba/tarung.
Steven Van Breemen mengembangkan sebuah metode ternak yang disebut : "population genetics".
Metode ini bertujuan untuk membangun suatu populasi yang ada dalam kandang dengan ciri-ciri genetika yang kurang lebih sama (homogen). Misalnya, kalau kita punya 20 ayam di kandang, maka semuanya mempunyai ciri kualitas karakter yang relatif sama (tentu tidak 100 % sama, tapi kalaupun berbeda tidak terlalu jauh). Dari kesamaan karakter ini, kita akan mampu memunculkan hasil ternak yang selalu stabil mutunya. Artinya, kita bisa mendapatkan stok super breeder unggulan yang pada akhirnya mampu memunculkan super fight.
Metode ini merupakan pengembangan dari teori Gregory Mendel yang sudah dimodifikasi. Aplikasinya dengan menggunakan prinsip Cross Breed, Inbreed dan Line breed secara sistematis dan tercatat dengan detail dan konsisten.
Menurut pendapat Steven Van Breemen, bila kita sukses menjalankan metode ini dengan baik, maka kita akan bisa santai-santai saja menikmati hasilnya selama 20 tahun lebih…!!
Selanjutnya teori population genetics hanya cocok diterapkan oleh peternak yang serius, konsisten dan mempunyai visi jauh ke depan, bukan hasil yang cepat. Jadi harus diawali dengan suatu visi tentang kualitas ayam yang nantinya ingin kita hasilkan.
Kalau serius dan ingin menciptakan kualitas ayam yang merata dan bagus, untuk jangka waktu yang panjang, tentu harus dilakukan dengan intensif, butuh waktu, biaya dan tenaga.
Khusus yang ingin serius saja berikut penerapannya:
Tahapan ternak berdasar teori ini:
1. Cross breed I -----> 2. inbreed -----> 3. line breed -----> 4. cross breed II
Tapi mungkin saja diantara sobat-sobat ada yang lebih berpengalaman dan sudah menemukan cara ternak yang lebih baik. Tapi paling tidak artikel ini bisa menambah wawasan mengenai bagaimana cara beternak yang baik dengan teknik modern sesuai dengan teori genetika para ilmuan. Tidak ada salahnya terus meningkatkan wawasan.
Sebelum membahas lebih dalam tentang teori genetika, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu beberapa kata yang ada dalam artikel ini agar tidak terjadi salah penafsiran.
1. Inbreed : Perkawinan antara dua individu yg memiliki hubungan darah sangat dekat. Yaitu : Ibu dengan anak, bapak dengan anak dan anak vs anak.
2. Line breed : Perkawinan dua individu yg memiliki hubungan darah tidak terlalu jauh. Contoh : Kakek dengan cucu, paman dengan keponakan, dll.
3. Cross breed : Perkawinan antara 2 individu yang tidak memiliki hubungan darah. Atau minimal hubungan darahnya terlalu jauh.
4. Super breed : Individu yang selalu mampu menurunkan sifat-sifat terbaik pada keturunannya.
5. Super fight : Individu yang diproyeksikan khusus untuk lomba/tarung.
Steven Van Breemen mengembangkan sebuah metode ternak yang disebut : "population genetics".
Metode ini bertujuan untuk membangun suatu populasi yang ada dalam kandang dengan ciri-ciri genetika yang kurang lebih sama (homogen). Misalnya, kalau kita punya 20 ayam di kandang, maka semuanya mempunyai ciri kualitas karakter yang relatif sama (tentu tidak 100 % sama, tapi kalaupun berbeda tidak terlalu jauh). Dari kesamaan karakter ini, kita akan mampu memunculkan hasil ternak yang selalu stabil mutunya. Artinya, kita bisa mendapatkan stok super breeder unggulan yang pada akhirnya mampu memunculkan super fight.
Metode ini merupakan pengembangan dari teori Gregory Mendel yang sudah dimodifikasi. Aplikasinya dengan menggunakan prinsip Cross Breed, Inbreed dan Line breed secara sistematis dan tercatat dengan detail dan konsisten.
Menurut pendapat Steven Van Breemen, bila kita sukses menjalankan metode ini dengan baik, maka kita akan bisa santai-santai saja menikmati hasilnya selama 20 tahun lebih…!!
Selanjutnya teori population genetics hanya cocok diterapkan oleh peternak yang serius, konsisten dan mempunyai visi jauh ke depan, bukan hasil yang cepat. Jadi harus diawali dengan suatu visi tentang kualitas ayam yang nantinya ingin kita hasilkan.
Kalau serius dan ingin menciptakan kualitas ayam yang merata dan bagus, untuk jangka waktu yang panjang, tentu harus dilakukan dengan intensif, butuh waktu, biaya dan tenaga.
Khusus yang ingin serius saja berikut penerapannya:
Tahapan ternak berdasar teori ini:
1. Cross breed I -----> 2. inbreed -----> 3. line breed -----> 4. cross breed II
![]() |
| papaji.forumotion.com |
1. Cross breed I
Sebelum mulai ternak, kita harus punya visi ke depan dulu. Visi tentang
seperti apa tipe karakter ayam terbaik yang kita ingin hasilkan. Jangan
sekedar ikut-ikutan hanya melihat ayam juara yang ada. Ayam juara belum
tentu sempurna. Maka visi kita harus jauh lebih bagus dari sekedar
juara. Agak idealis kelihatannya, tapi inilah cita-cita yang harus
dicapai, bagaimanapun sulitnya.
Untuk cross breed I, carilah pasangan indukan yang sesuai dengan kriteria visi tadi. Memakai ayam juara lebih dianjurkan. Tapi jangan asal pakai. Ayam juara banyak ragam tipe kerjanya. Misalkan ingin punya ayam dengan pukul keras, maka carilah ayam juara yg tipikal kerjanya pukul keras. Kemudian cari juga pasangan betinanya yang keturunan ayam pukul keras.
Hasil dari cross breed 1 ini diharapkan muncul ayam-ayam dengan karakter pukul keras secara merata pada anakannya.
Cross breed 1 ini dianggap tahap yang paling penting untuk pondasi beternak berikutnya. Hasil anakan 75% harus sama rata karakternya, jika tidak berarti ada yang salah. Ini untuk menghindari resiko besar pada tahapan breeding selanjutnya (inbreed), dan menghindari kerugian biaya dan membuang waktu percuma.
Untuk cross breed I, carilah pasangan indukan yang sesuai dengan kriteria visi tadi. Memakai ayam juara lebih dianjurkan. Tapi jangan asal pakai. Ayam juara banyak ragam tipe kerjanya. Misalkan ingin punya ayam dengan pukul keras, maka carilah ayam juara yg tipikal kerjanya pukul keras. Kemudian cari juga pasangan betinanya yang keturunan ayam pukul keras.
Hasil dari cross breed 1 ini diharapkan muncul ayam-ayam dengan karakter pukul keras secara merata pada anakannya.
Cross breed 1 ini dianggap tahap yang paling penting untuk pondasi beternak berikutnya. Hasil anakan 75% harus sama rata karakternya, jika tidak berarti ada yang salah. Ini untuk menghindari resiko besar pada tahapan breeding selanjutnya (inbreed), dan menghindari kerugian biaya dan membuang waktu percuma.
2. Inbreed :Tujuan inbreed adalah mencetak breeder (modal) yang menyatukan
sifat-sifat positif yang dimiliki agar lebih kuat daya turun ke anaknya
(dominan).
Hasil inilah yang disebut 'investasi', modal dasar dan aset ternakan
kita yang sangat berharga. Anakan hasil inbreed, biasanya tidak memiliki
‘vitalitas’. Yaitu rentan terhadap penyakit, dan fisik/staminanya loyo.
Ini tidak menjadi masalah, karena tujuan utamanya adalah untuk modal
bredeer, bukan untuk dijadikan fighter. Tapi juga tidak menutup
kemungkinan kalau ternyata hasilnya bisa jadi petarung hebat. Pada
akhirnya, kurangnya vitalitas ini dapat diperbaiki melalui tahapan
berikutnya.
3. Line breed :
Setelah dapat 'modal' dari inbreed, harus diperkuat lagi dengan line
breed. Bila dipasangkan (misalnya) dengan paman yang punya pukul keras,
hasilnya sudah bisa dipastikan : ayam dengan karakter pukul sempurna
yang sangat dominan. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Steven sebagai
'super breed'. Yaitu ayam yang memiliki daya turun breeding yang kuat
terhadap anak-anaknya.
4. Cross breed 2 :
Super breed ini boleh dicoba untuk disilang dengan ayam dari trah lain
(cross breed ke 2). Tujuannya utk menambah daya vitalitas dan
menyempurnakan karakter. Kalau di cross dengan ayam lain yang pukul
keras, hasilnya pasti ayam dengan pukulan sempurna. Kalau di cross
dengan ayam yang sifatnya agak berbeda (teknik bagus misalnya), maka
pukul kerasnya tidak akan hilang. Justru kita berharap ayam dengan
tipikal pukul keras dan teknik bagus. Inilah yang dimaksud Mr. Steven
sebagai ‘Super fighter’.
Beberapa prinsip yang harus dipahami :
1. Tujuan utama teori population genetics adalah untuk melestarikan
karakter/sifat-sifat unggul dari indukan (untuk mudahnya kita pake saja
istilah "geno-type") , bukan mempertahankan ciri-ciri fisik (feno-type).
Dengan kata lain, tujuan teori ini adlh menciptakan ‘super ‘breeder’.
2. Inbreeding pada prinsipnya adalah upaya menggabungkan sifat-sifat/
karakter 2 individu yang berbeda, baik karakter yang positif maupun
negatif. Oleh karena itu rumus inbreeding adalah "terbaik dengan
terbaik". Mr. Breemen memakai istilah super breeder vs super breeder.
Yang kedua, super breeder harus mempunyai karakteristik yang dapat
mendukung "visi" kualitas ayam yang ingin dihasilkan dari ternak kita.
Misalnya kalau kita mempunyai visi bahwa hasil ternakan kita harus
teknik bagus, maka cari indukan yang teknik bagus. Kalau sekarang belum
memiliki atau belum mampu memiliki indukan yang "ideal", menurut saya
tidak perlu khawatir karena kualitas indukan dapat diperbaiki melalui
cross-breeding.
Mungkin ada yang bertanya, kalau kita sudah punya "super breeder" kenapa tidak itu saja diternak dan tidak perlu repot-repot pakai teori population genetics?
jawab : Kalau tujuan kita ternak hanya jangka pendek memang teori
population genetics tidak perlu, tapi seperti dijelaskan sebelumnya,
tujuan kita adalah jangka panjang. Perlu diingat bahwa super breeder
yang kita punya suatu saat akan mati, mandul, atau sakit. Kalau ini
terjadi maka kita kehilangan modal. Itu sebabnya banyak peternak besar
yang gagal mempertahankan standard kualitasnya dan terus menurun. Dan
banyak ayam-ayam juara yang terputus generasinya.
3. Cross-breeding yang pertama adalah pada saat awal memulai ternak dimana indukan berasal dari dua darah (strain) yang berbeda, sedangkan cross-breeding yang kedua dilakukan dengan dua tujuan, yaitu apabila kita ingin memproduksi petarung dan untuk memperbaiki kualitas darah yang sudah ada (menambahkan elemen baru atau "additive characteristics" yg sudah ada).
4. Aplikasi teori population genetics menuntut adanya sistem seleksi
yang ekstra ketat. Beberapa waktu yang lalu ada pendapat yang mengatakan
untuk bisa memakai sistem inbreeding, maka kita harus menjadi ahli
"membunuh". Istilah ini sebenarnya hanya untuk memberikan tekanan bahwa
anakan yang akan melanjutkan generasi indukan harus diseleksi secara
ketat. Pilihlah anak betina yang mirip bapaknya dan anak jantan yang
mirip ibunya. Yang perlu dipahami, pengertian "mirip" disini bukan mirip
secara fisik, tapi yang lebih penting adalah karakternya (tetapi kalau
secara fisik juga mirip tidak masalah). Di sini lagi-lagi diperlukan
"feeling" dan keahlian dalam melakukan seleksi. Agar kita bisa melakukan
seleksi, misalnya untuk mengambil 1 pasang pada setiap generasi kita
tetaskan 3 X, lalu dari situ dilakukan seleksi untuk menentukan 1 pasang
yang akan melanjutkan karakter moyangnya (ancestors). Semakin banyak
pilihan yang akan diseleksi, akan semakin bagus.
5. Hasil inbreeding selalu ditandai dengan ciri-ciri kehilangan vitalitas (ayam hasil inbreeding menunjukkan gejala penurunan vitalitas). Prof. Anker bahkan menegaskan bahwa semakin besar hilangnya vitalitas pada ayam hasil in-breeding berarti effek dari inbreeding itu lebih bagus.
Ayam hasil inbreeding tidak cocok untuk tarung, tapi hanya cocok untuk menjadi indukan (orang eropa biasanya beli burung bukan untuk dimainkan tapi untuk breeding). Hasil turunannya nanti yang akan dimainkan.
Vitalitas yang hilang itu akan didapatkan kembali apabila hasil inbreeding disilang dengan ayam lain. Inbreeding dimaksudkan untuk membangun sifat-sifat yang akan selalu diturunkan kepada turunannya (offspring), sedangkan cross-breeding untuk menambah sifat-sifat/ karakter yang sudah ada seperti menambah vitalitas, karakter dan kekuatan.
Dengan in-breeding kita bisa memperbaiki kualitas yang jelek. In-breeding adalah pengurangan variasi atau keragaman. Semakin banyak/sering suatu darah tertentu (strain) dilakukan in-breed maka turunannya akan mirip satu sama lain.
Menjodohkan bapak dan anaknya yang betina atau ibu dengan anaknya yang jantan lebih efektif hasilnya dari pada menjodohkan kakak dengan adiknya (meskipun sama-sama in-breeding tapi sepertinya dampaknya berbeda). Ini karena ada gen yang dimiliki anak, tetapi tidak dimiliki bapak (kasus bapak dengan anak betina). Begitu juga sebaliknya antara ibu dengan anak jantan, ada gen dari pejantan pada anak yang tidak dimiliki ibu.
Bila tujuan kita ingin mendapatkan gen-gen yang lebih dominan dari bapak, maka gunakan bapak vs anak betina. Kalau ingin dominan dari ibu, maka gunakan ibu vs anak jantan.
Lalu siapakah yang sudah membuktikan teknik pemulian ternak ayam aduan dan berhasil melahirkan petarung unggul? Saya akan memberi contoh Mas Ary selaku admin di papaji.forumotion.com, berikut ulasannya.
Komentar salah pelanggan Mas Ary:
“Melihat ayam-ayam Mas Ary, saya mulai percaya bahwa metode inbreed mampu menghasilkan ayam aduan yang berkualitas. Tetapi ada satu pertanyaan, dari mana ayam-ayam Mas Ary mendapatkan pukulan yang bagus, sementara setau saya, mas ary breeding ayam-ayam teknik.
Datang saja ke Jl H. Niming No. 61 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dan saya sdh membuktikan kualitas ternakannya dengan membawa ayam terbaik saya ke sana. Sampai disana, ternyata ayam saya cuma jadi untulan.
Karena faktanya selain teknik yang luar biasa bagus, ayam-ayam teknik Mas Ary memiliki pukul yang tidak kalah sakit dengan ayam-ayam pukul atau ayam jalu. Apakah breeding Mas Ari menggunakan crosbreed juga, atau hanya inbreed saja? Jika hanya inbreed, lalu dari mana pukul sakit itu didaptkan?
Jawaban Mas Ari:
Pastinya, inbreed dan cross breed saya gunakan semua mas... Saya berusaha menciptakan 'Basic blood' dalam ternakan saya. Yaitu ayam-ayam yang memiliki keunggulan dari sisi teknik. Terutama babonnya. 'Basic Blood' babon ini didapat dari hasil ternak sendiri. Bukan hasil membeli dari luar. Dengan inbreed, saya bisa membuat 'teknik' menjadi sifat yang dominan. Kalau sudah dominan, saya bisa dangan mudah mencari pejantan dari luar yang memiliki pukulan yang bagus (untuk cross breed).
Tapi tentu harus diperhatikan, pejantan untuk cross breed ini harus juga memiliki teknik yang setipe dengan babon saya. Dengan begitu, anak-anaknya akan tetap berteknik bagus, dan punya kelebihan pada pukulnya.
Hasil dari cross breed, dipilih satu ekor anak jantan dan betina yang paling bagus. Sepasang anak inilah yang kembali menjadi 'modal' untuk proses inbreed berikutnya. Demikian seterusnya.
Jadi, secara sederhana bisa disimpulkan, bahwa fokus ternakan saya adalah menciptakan babon yang sesuai dengan keinginan saya (dalam hal ini teknik bagus). Kenapa harus babon? Karena dengan menciptakan sendiri babon hasil ternak, kita bisa dengan mudah mengetahui apa kelebihan dan kekurangan babon tersebut. Selanjutnya, bisa kita cari pejantan yang sekiranya cocok untuk dijodohkan.
Mau lihat hasil ternakannya? Tonton video berikut:
Jadi, metode ini harus dipandang hanya sebagai sebuah alat panduan yang secara teoritis sudah terbukti.
Selanjutnya tinggal tergantung peternaknya, bagaimana 'memainkan' alat tersebut supaya bisa berjalan dengan baik. Untuk itu, juga dibutuhkan feeling, sedikit modifikasi, proses seleksi dan proses pengujian yang ketat dan konsisten.
Ibarat sebuah gitar, bunyi yang dihasilkan tentu tergantung siapa pemainnya. Begitu juga metode ini, siapa yang lebih teliti, jeli, cermat dan mahir, tentu lebih berpeluang untuk berhasil melahirkan anakan unggulan sebagai petarung.
Nah, kalo begini kan jadi lebih bisa dipercaya. Maksud saya bahwa artikel yang ditulis di atas megenai methode inbreed dan crosbreed bukan sekedar teori dari barat, tetapi memang sudah dicoba dan terbukti berhasil. Dengan demikian secara empiris dapat dipertanggungjawabkan. Saya berharap Mas Ary mau menularkan ilmu breedingnya kepada peternak pemula, tidak dipendam sendiri untuk kesuksesan pribadi. Harapan ini juga ditujukan kepada para breeder senior lainnya yang sudah terbukti sukses dalam breeding dengan berbagai methode.
Semoga dengan demikian khasanah pemuliaan ternak, khususnya ayam laga indonesia dapat terus maju dan berkembang tidak kalah oleh breeder-breeder dari Thailand.
Special Thanks to
www.hobiayam.web.id
Monday, May 23, 2016
Monday, April 25, 2016
Obat Herbal untuk Mengatasi Penyakit Ayam
Dewasa ini perkembangan penggunaan herbal tradisional untuk keperluaan
penyembuhan penyakit, sudah begitu familiar. Terutama untuk proses
penyembuhan penyakit manusia, sebab begitu beragam penyakit modern yang
tidak bisa di atasi, dengan penangganan keilmuan kedokteran.
Seandainya ingin di bahas seluruh herbal tradisional yang ada di bumi
Indonesia, maka cakupan keilmuaannya akan terlalu melebar, sebab
jumlahnya bisa ribuan jenis. Disini di batasi empat macam herbal
tradisional, sebenarnya masing-masing herbal tersebut mempunyai manfaat
sendiri-sendiri. Yang jika di padukan satu dengan lainnya merupakan
sinergi yang saling menguatkan fungsi penyembuhan.
Hanya sayangnya terkadang fungsi kegunaan, seringnya dipahami terlebih
dahulu oleh peneliti dari manca Negara yang begitu antusias, begitu
intens dengan di topang pendanaan berlimpah dan dukungan lembaga
pemerintahan yang bertanggungjawab, demi kemajuaan pengetahuaan dunia.
Untuk sementara, jangan berharap terlalu banyak dengan campur tangan
pemerintahan Indonesia saat ini ya, nangis sendiri nanti.
DAUN SIRIH
Daun sirih ( Piper Betle )banyak mengandung Atsiri Oil, satu diantara
komponen adalah Kavakrol bersifat Desinfektan dan anti jamur sehingga
bisa untuk Antiseptik pada saluran pencernaan. Unsur Eugenol dan
Metil-Eugenol berfungsi pengurangi rasa sakit. Sifat Anti Bakteri dapat
mengurangi rasa gatal dan merah berair pada mata.
KUNIR/ KUNYIT
Kunyit ( Curcuma Domestica ) Curcumin senyawa utama pada kunyit yang
berkhasiat untuk beragam penyakit,misalnya mengobati gangguan saluran
pencernaan, antiradang, antibakteri, antikanker, penurun kadar
kolesterol, membersihkan lemak pada saluran pembuluh darah.
TEMULAWAK
Temulawak ( Curcuma Xanthorrhiza ), mempunyai sifat Detoksifikasi/
mengeluarkan racun dan kontaminasi jamur Alfatoksis Flavus yang
mengendap dalam hati.Belum lagi membantu sekresi dari kerja pangkreas,
sehingga mampu mengoptimalkan metabolism pangkreas mengeluarkan Enzim
Amilase, Lipase, Protease. Kehadiran enzim-enzim ini membantu
meningkatkan penyerapan bahan pakan karbohidrat, protein dan lemak.
BROTOWALI
Rimpang brotowali (Tinospora Crispa) rasannya sangat pahit.Senyawa
Pikroretin pembawa rasa pahit banyak mengandung alkaloid, saponin,dammar
dan masih banyak lagi. Kalau cumapenyakit segala jenis cacing, pasti
hancur digempur sama Pikroretin.
a. Daun sirih 2 ons
b. Kunyit 2 ons
c. Temulawak 2 ons
d. Brotowali 2 ons
e. Air bersih 5 liter
Semua bahan herbal di cuci bersih, masukkan panci tambah air bersih 5
liter, masak hingga air mendidih. Di butuhkan waktu sekitar 30 menit.
Setelah dingin campur dengan jatah air minum ayam pada pagi hari saja,
untuk ayam sejumlah 500 ekor. Satu resep herbal ini bisa di pakai
sebanyak 3 kali pemasakan herbal/ tiga hari masa pakai pada pagi hari
saja. Setelah 3 hari pakai, herbal di buang diganti yang baru.Artinya
dalam satu minggu Cuma pakai campuran herbal 3 kali atau 3 hari saja.
Aplikasi herbal dapat di barengkan dengan Egg Stimulant/ Strong Egg,
tanpa mengurangi khasiat masing-masing. Yang saya terangkan di atas
untuk dosis pencegahan penyakit. Untuk dosis pengobatan penyakit akan
saya uraikan di bawah ini.
APLIKASI PENGOBATAN PENYAKIT
COCCIDIOSIS/ BERAK DARAH
Waktu yang di perlukan untuk menyembuhkan berak darah, sekitar 7 hari
sembuh, tanpa ada kematian sama sekali jika pakai herbal. Jika tidak
pakai herbal sembuh dalam 10 hari dengan tingkat kematian 10 – 15 %. Itu
pengalaman empiris yang saya alami sendiri. Dosis pengobatan air minum
100 % air godokan herbal di kombinasikan dengan obat COCY atau ANTICOCY
selama 7 hari.
SNOT/ CORIZA/ PILEK
Pilek hidung yang mengeluarkan air, yang lama kelamaan menggumpal
menutupi lubang hidung sembuh dalam 3 hari. Kepala bengkak kemerahan,
sembuh dalam 5 hari dengan tingkat kematian 0 %. Jika tidak pakai
herbal, sembuh dalam 10 hari dengan tingkat kematian 15 %.Pemakaian
herbal 100 % selama 5 hari di kombinasikan dengan obat kimia TRYMEZIN.
CRD (Chronis Respiratory Disease )/ NGOROK
CRD penyakit yang bersifat kronis, artinya gejala penyakit tidak
terlihat secara frontal, tapi akan muncul secara berlahan-lahan. Maka
peternak yang kurang teliti, sekali ke serang , ayam sudah dalam kondisi
accut. Sebenarnya untuk mendeteksi CRD sangat gampang sekali, masuk ke
kandang ayam pada malam hari, dengarkan ada tidak suara ngorok, batuk,
atau tercekik. Seandainya terdengar segera ambil tindakan, sebab
penyakit ini penyebaran cepat sekali. Waktu yang di butuhkan untuk
penyembuhan pakai herbal 7 hari sembuh.Air minum 100% herbal,kombinasi
obat NEO MEDITRIL.
KOLERA/ BERAK HIJAU
Warna kotoran dari kuning normal menjadi coklat akhirnya berwarna hijau.
Ujung-ujung jengger ke biruan dan pial bengkak merah kehitaman. Kondisi
ayam lemas tidak nafsu makan akhirnya mati. Penyembuhan penyakit ini
perlu waktu 7 – 8 hari, tingkat kematian 5% sebab penyakit ini bisa
bersifat kronis hingga accut/ ganas. Herbal tetap pakai 100% dan obat
KOLERIDIN.
CACING ASCARIS
Penyakit ini tidak menimbulkan kematian, hanya tampilan performans ayam
menjadi tidak menarik, bulu kering berdiri, muka pucat, berhenti
bertelur, mencret encer. Ayam sudah berproduksi jangan sekali-kali di
beri obat cacing kimiawi, efeknya produksi telur langsung droup. Dengan
herbal 100%, ayam sembuh dalam 3 hari, cacing ikut keluar bersama
keluarnya kotoran.
DIPTHERI/ CACAR
Penyakit ini ada 2 macam jenis, cacar luar dan cacar dalam. Cacar luar
bermula dari luka pada kulit yang tidak di tumbuhi bulu, bintik merah
berubah kuning menjadi hitam membesar. Cacar hitam kering di kelupas
diolesi godokan herbal, cacar luar 3 hari sembuh. Cacar dalam menyerang
selaput lendir lidah, mulut dan tenggorokan. Selaput lendir berwarna
kuning di dalam rongga mulut, bila di biarkan semakin membesar dan
menyumpal rongga mulut sehingga sulit bernapas. Gunakan air minum herbal
100% dalam 7 hari cacar dalam sembuh.
NCD/ TETELO, IB (INFEKSIUS BRONCHITIS), ASPERGILLOSIS, GUMBORO, EDS, ILT
Semua nama penyakit di atas,yang menurut ahli peternakan sekarang ini
belum bisa di sembuhkan, hanya bisa pencegahan lewat vaksin. Dapat di
atasi dengan ramuan herbal di atas, memang memerlukan waktu agak lama 15
hari tapi ayam sembuh. Prosesnya gimana saya juga tidak tahu, tapi ayam
sembuh. Selama 15 hari nonstop air minum herbal 100%, kombinasi obat
kimia DOCTRIL/ NEO MEDITRIL. Yang terpenting di sini, jangan mengobati,
usahakan tindakan pencegahan saja.
Kelima penyakit diatas kecuali Aspergillosis, merupakan penyakit penurun
produksi telur. Penanganan pencegahan sedini mungkin lebih di
utamakan.Penggunaan herbal mulai dari DOC hingga Afkir tidak
menimbulkan efek samping sama sekali.
(sumber: ternakmodren.blogspot.co.id)Cara Mengetahui Jenis Kelamin Anak Ayam
Mengetahui jenis kelamin anak ayam memang susah karen bentuk dan rupanya
sama persih, tapi kalau diteliti lebih lanjut ada perbedaan-perbedaan
antara jenis kelamin ayam jantan dan jenis kelamin ayam betina. Dalam
istilah peternakan, membedakan jenis kelamin anak ayam disebut chick
sexing. Proses menyeleksi jenis kelamin anak ayam ini pertama kali
ditemukan di Jepan pada tahun 1933 oleh Prof. Masui dan Hasimoto. Dalam
tujuan bisnis ternak ayam kampung chick sexing memiliki peranan penting
dalam sistem pemeliharaan ternak ayam. Membedakan jenis kelamin DOC umur
1 hari memang sangat sulit. Dengan sedikit kesabaran dan ketekunan
metode itu sangat mudah dan menarik untuk dilakukan. Berikut penjelasan
cara membedakan jenis kelamin ayam pada umur 1 hari tersebut.
Tujuan
Tujuan
- Mengetahui jenis kelamin bibit ayam kampung serta membedakan ayam berdasarkan pejantan dan betina.
- Manfaat
- Memberi perlakuan khusus terhadap pejantan dan betina
- Mengelompokkan ayam berdasar jenis kelamin
- Membuat rencana ternak berdasar jenis kelamin
- Menyeleksi ayam berdasar jenis kelamin pada umur 1 hari
Setelah mengetahui tujuan dan manfaat membedakan jenis kelamin anak ayam maka langkah selanjutnya adalah chick sexing tersebut. Menyeleksi anak ayam atau DOC umur 1 hari lebih sulit dibanding ayam dewasa. Maka dari itu penulis ingin berbagi tips chick sexing tersebut.
1. Vent Sexing
Vent sexing adalah membedakan jenis
kelamin berdasarkan lubang alat kelamin atau cloaca. Artinya kita harus
melihat jenis kelamin dari sana. Untuk calon pejantan memiliki tonjolan
seperti jerawat atau lubang jarum berwarna kuning, putih dan bahkan ada
yang hitam sedangkan untuk calon betina tidak ada. Sedangkan bagi betina
memiliki ovarium yang merupakan sel telur yang berbentuk seperti V.
Vent sexing sangat sulit dikarenakan membedakan tonjolan yang sangat
kecil. Namun bagi yang sudah berpengalaman maka vent sexing sangat
mudah.
Pada kenyataannya tonjolan calon pejantan kadang tidak ada dan untuk
betina malah ada tonjolan. Untuk itu mengapa peternakan besar yang
memiliki sexer (petugas seleksi jenis kelamin) tidak bisa menjamin 100%
ketepatan seleksi. Dengan metode ini masih menyisakan 5% ketidak pastian
jenis kelamin.
vent sexing2. Feather Sexing
Pada tahun 1969 metode membedakan jenis kelamin diperbaharui yaitu dengan Feather sexing yaitu menentukan jenis kelamin pada DOC dengan memperhatikan bagian tubuh ayam. Dalam hal ini adalah sayap pada anak ayam yaitu sayap primer dan sayap sekunder. Ayam betina lebih cepat tumbuh dari pada ayam pejantan. Sedangkan untuk calon pejantan biasanya lebih cepat besar. Dengan metode Feather sexing ini maka penyeleksian anak ayam akan lebih murah, mudah dan akurasi seleksi akan lebih tepat.
perbedaan pejantan dan betina
3. Alternatif Lain
Pada alternatif lain adalah menyeleksi bagi anak ayam yang masih ragu atas jenis kelamin tersebut. Alternatif yang digunakan adalah menunggu sampai tumbuh bulu secara penuh. Biasaya ayam yang berwarna mencolok akan menjadi pejantan. Itu sebabnya pejantan mempunyai warna yang beragam dari betina untuk menarik pasangannya. Seperti itulah salah satu cara beternak ayam kampung Anda tertarik bukan dengan warna bulu ayam kampung yang beragam? Itu sebabnya mengapa kita memilih ternak ayam kampung.
(sumber: ternakmodren.blogspot.co.id)
Thursday, April 7, 2016
Subscribe to:
Posts (Atom)


